Dalam era digital yang semakin canggih, kejahatan siber seperti phishing terus mengintai pengguna internet. Modusnya beragam, mulai dari mengirim tautan berbahaya melalui email, pesan singkat, hingga media sosial. Jika tidak hati-hati, korban bisa kehilangan data pribadi, uang, bahkan terkena malware.
Lantas, bagaimana cara memastikan sebuah link aman sebelum diklik? Berikut langkah-langkahnya:
- Periksa Alamat URL dengan Cermat
Sebelum mengklik, arahkan kursor ke tautan (tanpa diklik) untuk melihat pratinjau URL di pojok kiri bawah browser. Pastikan alamatnya sesuai dengan situs resmi. Misalnya, link bank harus mengarah ke domain bank tersebut (contoh: www.bankabc.co.id), bukan yang mirip (seperti bankabc-login.xyz). - Cek Protokol HTTPS
Situs yang aman menggunakan protokol HTTPS (bukan HTTP). Lihat di bilah alamat browser—jika ada ikon gembok, artinya koneksi terenkripsi. Namun, tetap waspada karena beberapa situs phishing juga sudah menggunakan HTTPS. - Gunakan Tool Pemeriksa Link
Beberapa layanan online seperti VirusTotal, Google Transparency Report, atau URLVoid dapat memindai link mencurigakan. Cukup salin dan tempel URL ke tool tersebut untuk melihat reputasinya. - Hindari Link yang Dipendekkan
Tautan yang dipendekkan (bit.ly, tinyurl) sering digunakan penipu untuk menyembunyikan URL asli. Gunakan tool seperti CheckShortURL untuk mengungkap alamat sebenarnya sebelum mengaksesnya. - Waspada terhadap Pesan Mendesak atau Mencurigakan
Phishing sering kali memanfaatkan rasa panik, seperti “Akun Anda akan diblokir!” atau “Klaim hadiah segera!” Selalu verifikasi kebenaran informasi melalui saluran resmi perusahaan. - Aktifkan Fitur Keamanan Tambahan
Pasang browser extension seperti Web of Trust (WOT) atau Netcraft untuk memperingatkan Anda saat mengunjungi situs berbahaya. Selain itu, selalu update antivirus dan firewall. - Laporkan Link Phishing
Jika menemukan tautan mencurigakan, laporkan ke Google via Google Safe Browsing atau platform tempat link tersebut beredar (seperti Facebook, WhatsApp).
Kata Ahli:
Menurut Andri, pakar keamanan siber dari Indonesia CSIRT, “Korban phishing biasanya terburu-buru dan kurang teliti. Edukasi dan tools sederhana bisa menjadi tameng pertama.“